Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Peristiwa » Bencana Sumatera Ulah Manusia Rakus dan Kebijakan Pro Kapitalis

Bencana Sumatera Ulah Manusia Rakus dan Kebijakan Pro Kapitalis

  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
Oleh : Ferry Is Mirza (FIM)

Peweimalang.com, Surabaya – Hingga hari Sabtu (6/12) atau akhir pekan, entah kenapa Pemerintah Presiden Prabowo belum memutuskan Bencana Nasional yang terjadi di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar). Padahal, bencana ini konon lebih dahsyat dibanding bencana tsunami Aceh, yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.

Banjir besar melanda tiga provinsi tersebut merenggut korban meninggal dunia totalnya tercatat 867 jiwa dan 521 korban hilang yang kini masih dalam pencarian. (Jawa Pos 6/12). Banjir juga menenggelamkan sejumlah desa serta menghancurkan kawasan pemukiman dan berbagai infrastruktur di tiga provinsi tersebut. Dan bencana banjir bandang ini juga melanda sejumlah negeri lain di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Sri Lanka dan Myanmar. Tetapi sejauh ini Indonesia merupakan negara dengan korban jiwa terbanyak.

Iklim Ekstrim dan Perusakan Alam

Banjir besar ini memang disebabkan oleh hujan ekstrem. Pemicunya adalah siklon tropis Senyar dan Koto yang terjadi di Selat Malaka. Akibatnya, sejumlah kawasan  terdampak curah hujan yang sangat tinggi.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), siklon ini berlangsung pada 26 November 2026 selama 48 jam. BMKG menyebut kemunculan dua siklon tersebut sebagai kejadian pertama dalam sejarah. Ia tumbuh di Selat Malaka, wilayah ini sebelumnya diyakini mustahil menjadi lokasi pembentukan siklon, karena terlalu dekat garis ekuator.

Tetapi curah hujan ekstrem ini berubah menjadi bencana banjir. Pasalnya, di kawasan tersebut jutaan area hutan sebagai  penahan curah hujan sudah hilang. Banyak pihak menduga deforestasi alias pembabatan atau pembalakan hutan yang masif menjadi penyebab utama bencana di tiga provinsi tersebut.

Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), selama periode 2016-2025, deforestasi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat mencapai 1,4 juta hektar. Selain itu, banyak izin usaha diberikan oleh Pemerintah untuk kegiatan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di Pegunungan Bukit Barisan.

Diantaranya sektor pertambangan, perkebunan sawit dan proyek energi. WALHI mencatat ada lebih dari 600 perusahaan di Aceh, Sumut dan Sumbar yang kegiatan eksploitasi SDA-nya memperparah kerapuhan infrastruktur ekologis. Penebangan liar atau illegal loging di hutan-hutan Sumatera secara besar-besaran juga dicurigai menjadi penyebab deforestasi. Hanyutnya ribuan batang pohon yang terbawa banjir menjadi bukti kuat aksi pembalakan liar berjalan di kawasan Sumatera.

Mitigasi Bencana

Indonesia adalah negara yang memiliki curah hujan tinggi dan terletak di cincin bencana (ring of fire). Di sini ada rangkaian gunung berapi sepanjang 40.000 kilometer (km) dan situs aktif seismik yang membentang di Samudra Pasifik. Artinya, negeri ini mestinya sudah memiliki kemampuan mitigasi yang memadai. Tentu demi melindungi rakyatnya, termasuk membekali penduduk dengan kemampuan untuk menghadapi bencana.

Sayangnya, musibah banjir yang menimpa Sumatera memperlihatkan ketidaksiapan negara dalam mitigasi bencana. Padahal, delapan hari sebelum bencana, BMKG sudah melaporkan bahwa akan terjadi hujan ekstrim dengan curah tinggi.

Saat bencana terjadi, nampak negara tidak berdaya melakukan mitigasi. Bahkan sampai hari ini kejadian bencana di tiga provinsi itu tidak dinyatakan sebagai bencana nasional. Apalagi pada awal kejadian bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tragedi banjir itu hanya mencekam di medsos.

Sampai tulisan ini dibuat masih banyak daerah terisolir. Masih banyak mayat terkubur lumpur, longsoran, bangunan dan gelondongan kayu. Karena kelaparan, sebagian warga terpaksa menjarah toko. Tim Basarnas mengungkapkan bahwa tim Search And Rescue (SAR) gabungan yang telah bertugas selama tujuh hari nonstop dalam operasi tanggap darurat mulai mengalami kondisi kelelahan ekstrim.

Sabar dan Muhasabah

Sebagai kaum Muslim, hati dan pikiran kita harus mengikuti tuntunan Islam dalam menyikapi musibah. Kita wajib meyakini bahwa semua musibah merupakan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT).

Demikian sebagaimana firmanNya

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah Pelindung kami. Karena itu hanya kepada Allah hendaknya kaum Mukmin bertawakal.” (QS. at-Taubah : 51). Allah Wa Ta’ala  memerintahkan setiap Muslim untuk bersabar dalam menghadapi setiap musibah dan memasrahkan semuanya kepadaNya. (*)

  • Penulis: Ferry Is Mirza (FIM)
  • Editor: PWI Malang Raya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less