Taufiq Saguanto Gaungkan Budaya Zero Waste Living

Taufiq Saguanto, budayawan sekaligus pelaku ekonomi kreatif di Kota Malang

Peweimalang.com, Kota Malang – Taufiq Saguanto seorang budayawan yang juga berkecimpung di dunia ekonomi kreatif. Ia juga aktif dalam komunitas Museum Daur Ulang Malang dan Malang Cycling Community.

Taufiq memulai di dunia upcycling produk yang terinspiasi dari negara Jepang yang membuat produk-produk kraft dasar dalam bentuk kertas. Ia mulai berkecimpung dalam dunia tersebut mulai tahun 2016.

“Awal mula berkecimpung dalam dunia daur ulang pada 18 Januari 2016,” kata Taufiq, Senin (1/12/2025).

Menurut Taufiq, kenyataan saat ini sampah plastik bertambah sangat banyak. Maka dari itu, Taufiq ingin memanfaatkan bahwa produk-produk kraft dasar untuk anak sekolah.

“Saya berpikiran bahwa pemanfaatan sampah plastik untuk produk-produk kraft dasar untuk anak sekolah dan pergeseran budayanya akan seperti itu,” ujar Taufiq.

Pengurangan sampah plastik dengan cara membakar membutuhkan biaya yang sangat besar. Pasalnya, pembakaran sampah membutuhkan teknologi dan juga energi yang sangat besar.

Lebih lanjut, Taufiq menjelaskan bahwa budaya saat ini di sekolah mengharuskan siswa untuk membeli sebuah produk baru, bukan memanfaatkan produk bekas.

“Guru terkadang menyuruh siswa untuk membawa kertas ini, kertas itu dan akhirnya tambah memperbanyak sampah lagi,” tambahnya.

Taufiq menegaskan bahwa saat ini tidak lagi mengolah sampah dengan recycle tapi menggunakan upcycle. Upcycle sendiri artinya sebuah produk tidak lagi dihancurkan dan dijadikan biji plastik, namun mengubah barang tersebut menjadi produk baru.

“Jadi dimanfaatkan dengan digunting, dilem, dipotong-potong untuk dijadikan produk baru seperti jas hujan, dan tikar. Tidak diharuskan lagi dijadikan biji plastik,” tegasnya.

Kendala saat ini dalam proses upcylce adalah budaya masyarakat. Taufiq menilai bahwa budaya masyarakat saat ini masih belum memiliki kesadaran akan pengelahan sampah.

“Kendalanya ya budaya itu, masyarakat masih belum pernah diajarkan hal itu. Jadi sedikit sulit untuk menciptakan budaya seperti itu,” tuturnya.

Taufiq menegaskan bahwa pemilahan sampah seharusnya menjadi pelajaran dasar pada sekolah. Namun karena kebiasaan hidup lingkungan budaya pemilihan sampah sulit untuk dilakukan.

“Di rumah saya sampahnya sudah saya pilah, tapi saat diangkut sampah tersebut malah dicampur. Jadi kita membuat budaya baru, bukan karena kita ahli budaya tapi ini budaya untuk survive terhadap sampah plastik ini,” lanjut Taufiq.

Saat ini sudah banyak sekolah-sekolah yang sudah menerapkan budaya upcycle ini. Namun, pembelajaran tersebut masih belum formal pada dunia pendidikan.

Taufiq juga menyebut bahwa pihaknya telah banyak berkolaborasi dengan sekolah untuk menggangungkan budaya zero waste living ini.

“Makanya tahun ini saya masukkan ke Dana Indonesiana supaya sampah-sampah itu bisa dijadikan sesuatu yang bernilai tinggi,” kata Taufiq.

Pelaku Ekraf itu menegaskan bahwa budaya ini bisa cepat dilaksanakan dengan kolaborasi dengan pemerintahan, media, komunitas, institusi pendidikan dan regulasi.

“Yang penting kolaborasinya jalan cepat, tapi kalau jalan sendiri-sendiri, pemerintahan tidak support dan kadang sekolah menolak itu menjadi tantangan buat kami,” pungkasnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *