Peweimalang.com, Malang Kota – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kolaborasi internasional di bidang kesehatan melalui forum ilmiah yang mempertemukan peneliti Indonesia, Jepang, dan Malaysia.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan terkait inovasi kesehatan, khususnya dalam menghadapi penyakit kanker dan penyakit kronis.
FIKES UMM menggandeng sejumlah mitra, termasuk organisasi yang bergerak dalam pengembangan riset kanker. Forum tersebut mengusung tema “Advancing Health Innovation, Collaboration and Sustainable Action”.
Dekan FIKES UMM Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., mengatakan kegiatan ini menghadirkan empat pembicara internasional. Tiga di antaranya berasal dari Jepang dan satu peneliti dari Malaysia.
Sementara itu, tiga pembicara internal UMM berasal dari bidang keilmuan berbeda. Yakni farmasi, fisioterapi, dan keperawatan.
“Harapannya UMM, khususnya Fakultas Ilmu Kesehatan dan Farmasi, bisa menjadi bagian dalam mengatasi penyakit kronis maupun kanker,” ujar Hidajah Rachmawati, Jum’at (28/08/’26).
Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan. Lebih jauh, hasil riset diharapkan dapat bergerak dari tahap penemuan senyawa baru hingga implementasi.
Pengembangan tersebut mencakup berbagai tahapan penelitian. Mulai dari studi in silico, in vitro, hingga pengembangan dan aplikasi hasil penelitian.
“Untuk menyembuhkan, sebenarnya kami sudah memiliki beberapa kandidat. Tetapi masih diperlukan pengembangan lebih lanjut,” jelasnya.
Bahas Temuan Terbaru Kanker
Kehadiran peneliti internasional menjadi salah satu kekuatan utama forum tersebut. Para peneliti membawa perspektif dan hasil kajian terbaru mengenai kanker.
Materi yang dibahas cukup luas. Mulai dari penemuan kandidat senyawa baru, pengembangan obat, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam penelitian kesehatan.
Menurut Dekan FIKES, forum ini penting karena mempertemukan berbagai bidang keilmuan dalam satu ruang akademik.
Kolaborasi antara farmasi, keperawatan, dan fisioterapi diharapkan mampu melahirkan pendekatan yang lebih terintegrasi dalam menghadapi persoalan kesehatan.
“Diharapkan dari beberapa keilmuan yang berbeda ini terjadi integrasi informasi terbaru terkait kesehatan secara umum,” katanya.
Selain peneliti dari Jepang dan Malaysia, forum tersebut juga diikuti akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Peserta berasal dari sejumlah institusi, termasuk perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Muhammadiyah Aisyiyah (APTFMA), BRIN, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Ditambahkan oleh Ketua panitia Apt. Nailis Syifa’, S.Farm., M.Sc., PhD, kegiatan juga melibatkan mahasiswa UMM. Mereka berasal dari program profesi keperawatan, apoteker, fisioterapi, serta mahasiswa S1 Farmasi, Keperawatan, dan Fisioterapi.
Secara keseluruhan, jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 200 orang, baik yang hadir secara langsung maupun mengikuti kegiatan secara hybrid.
Dari Seminar hingga Presentasi Riset
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi seminar internasional dengan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri.
Sementara hari kedua diisi oral presentation dan presentasi poster hasil penelitian peserta.
Sejumlah artikel hasil penelitian juga diarahkan untuk dipublikasikan. Dengan demikian, forum ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga membuka ruang bagi diseminasi hasil riset ke komunitas akademik yang lebih luas.
Nailis menegaskan, pertemuan tersebut juga menjadi momentum membangun jejaring antar-institusi.
Pertemuan peneliti dan akademisi dari berbagai negara membuka peluang lahirnya kerja sama baru. Termasuk pengembangan riset bersama dan publikasi ilmiah.
“Yang pasti mereka bisa bertukar informasi dan menjalin kerja sama karena antar-institusi bertemu di sini,” tuturnya.
Perkuat Kolaborasi Riset Kanker
Kolaborasi dengan ISCC juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. ISCC merupakan organisasi yang beranggotakan peneliti dengan konsentrasi pada bidang kanker.
Keterlibatan organisasi tersebut diharapkan memberikan penguatan terhadap agenda riset kanker yang dikembangkan UMM.
Nailis menyebut, forum ini bukan kegiatan pertama yang membahas kanker di lingkungan perguruan tinggi. Namun, kehadiran jejaring khusus peneliti kanker memberikan nilai tambah dalam memperluas kolaborasi.
“ISCC ini organisasi dari peneliti-peneliti tentang kanker. Kami berkolaborasi sehingga memang ada penguatan karena ada organisasi yang spesifik tentang kanker,” ujarnya.





