Peweimalang.com, Kabupaten Malang – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim), secara resmi telah merilis Prakiraan Musim Kemarau Tahun 2026. Secara umum, wilayah Jatim termasuk Kabupaten Malang dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena adanya potensi penguatan fenomena El Nino yang dapat menyebabkan kondisi cuaca jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan keterangan Kepala Stasiun Klimatologi Jatim Anung Suprayitno menekankan, bahwa informasi ini merupakan peringatan dini (early warning) agar para pemangku kepentingan dan masyarakat dapat melakukan aksi dini guna meminimalkan risiko bencana kekeringan. Hal ini disampaikan, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan, Rabu (25/3), kepada wartawan.
Dari hasil keterangan Kepala Stasiun Klimatologi Jatim tersebut, lanjut dia, sebagian besar wilayah Jatim, termasuk Kabupaten Malang, diprediksi akan mulai memasuki awal musim kemarau pada bulan Mei 2026. Data menunjukkan bahwa 56,9 persen luas wilayah akan masuk kemarau di bulan itu. Sementara, sebagian kecil wilayah lainnya mungkin sudah memulai kemarau lebih awal pada bulan April mendatang, atau menyusul pada bulan Juni. “Puncak musim kemarau di Kabupaten Malang diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026. Wilayah Malang termasuk dalam 53 Zom di Jatim yang mengalami puncak kekeringan paling intens di bulan tersebut,” terangnya.
Menurut Sadono, karakteristik Kemarau Tahun 2026 yakni Lebih Kering, sifat hujan selama musim kemarau diprediksi masuk kategori Bawah Normal. Hal ini dipicu oleh peluang penguatan El Nino sebesar 50-60 persen pada pertengahan hingga akhir tahun. Durasi Panjang, durasi kemarau diperkirakan cukup lama, dengan rentang waktu berkisar antara 16 hingga 24 dasarian (sekitar 5 hingga 8 bulan) di berbagai zona. Sedangkan pada awal Musim Kemarau 2026 di Kabupaten Malang akan terjadi pada bulan April 2026 pada Minggu ke III, Mei dan Juni (terlampir pada peta). Puncak Musim Kemarau 2026 di Kabupaten Malang akan terjadi pada Bulan Agustus dan September 2026.
Sehingga, kata dia, ada beberapa kecamatan yang diperkirakan memasuki awal musim kemarau pada Bulan April yakni Kecamatan Bantur, Donomulyo, Kalipare dan Pagak. Sedangkan pada bulan Mei yakni Kecamatan Bululawang, Dampit, Dau, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Singosari, Sumbermanjing, Sumberpucung, Tajinan, Tirtoyudo, Tumpang, Turen, Wagir, Wajak dan Wonosari, dan pada bulan Juni yakni Kecamatan Ampelgading. Berdasarkan hasil kajian risiko bencana terdapat beberapa potensi kejadian bencana ketika musim kemarau, seperti akan terjadi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan. “Terdapat 22 Kecamatan termasuk dalam daerah risiko kekeringan,” jelas Sadono.
Seperti, masih dia jelaskan, di Kecamatan Donomulyo, Kalipare, Pagak, Bantur, Sumbermanjing, Dampit, Tirtoyudo, Ampelgading, Poncokusumo, Wajak, Turen, Sumberpucung, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Lawang, Singosari, Karangploso, Dau, Pujon, Ngantang, dan Kasembon. Kemudian terdapat 26 Kecamatan termasuk dalam daerah risiko kebakaran hutan dan lahan yaitu Kecamatan Donomulyo, Kalipare, Pagak, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing, Dampit, Tirtoyudo, Ampelgading, Poncokusumo, Wajak, Turen, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Wagir, Pakisaji, Tumpang, Jabung, Lawang, Singosari, Karangploso, Dau, Pujon, Ngantang dan Kasembon.
“Pada Tahun 2019 silam, papar Sadono, terdapat 18 Desa yang tersebar pada 11 Kecamatan di Kabupaten Malang terdampak krisis air bersih atau kekeringan, yakni wilayah Kecamatan Jabung, Donomulyo, Singosari, Sumbermanjing Wetan, Kalipare, Lawang, Sumberpucung, Pagak, Bantur, Gedangan dan Pujon. Pada Tahun 2023 terdampak 22 Desa yang tersebar di 8 Kecamatan,” tambahnya.
BMKG, terang Sadono, telah merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menghadapi potensi kemarau kering di Kabupaten Malang, yakni pada sektor pertanian dan pangan agar segera menyesuaikan kalender tanam dan beralihlah ke varietas tanaman yang tahan kekeringan atau berumur pendek (seperti palawija), guna menghindari risiko gagal panen. Sehingga harus mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan diversifikasi tanaman hortikultura. “Lakukan panen air hujan di sisa periode musim hujan untuk mengisi waduk, embung, atau tandon air sebagai cadangan konsumsi dan irigasi. Menggunakan air secara bijak dan efisien untuk keperluan sehari-hari,” himbaunya.(*).





